|
SM-3T ANGKATAN V
KAB BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT
Umi Hanum, S.Pd.
|
Anak Kampung
Jadi Juara
Tak
pernah terbayangkan sebelumnya aku menjadi seorang guru di daerah 3T (Terdepan,
Terluar, Tertinggal). Mengikuti progam SM-3T memang sudah ada dalam peta
hidupku. Kala itu aku tulis akan mengikuti SM-3T bulan Maret tahun 2016. Namun
aku bersyukur ketika aku telah dinyatakan lulus S1 pada tanggal 29 Maret 2015 dan
diwisuda tanggal 15 Juni 2015. Melihat website SM-3T ternyata sudah mulai
pembukaan pendaftaran SM-3T untuk angkatan V. Aku cermati apa saja persyaratan
yang harus dipenuhi untuk menjadi peserta SM-3T.
Waktu itu aku belum mendapatkan
ijazah S1, sehingga untuk mendaftar, aku menggunakan Surat Keterangan Kelulusan
(SKL). Beberapa tahap seleksi telah dilewati dan akhirnya aku resmi dinyatakan
menjadi guru SM-3T. Saat yang mendebarkan pun tiba, yaitu pengumuman tentang
dimana kita semua akan di tempatkan. Papan tulis sesak penuh peserta yang
penasaran dengan dimana dia ditempatkan. Aku pun tidak bisa melihat namaku ada
dimana. Dan akhirnya ada salah satu teman yang memberitahuku bahwa aku
ditempatkan di Bengkayang, Kalimantan Barat. Suatu nama daerah yang baru kali
pertama aku dengar. Yang ada di pikiran hanyalah suatu tempat yang dipilihkan
cocok buat aku dan aku yakin bisa bertahan hidup disana.
Sesampainya di Bengkayang kami pun
segera mengetahui di Kecamatan mana kita akan di tugaskan. Ketika di Oto kami
bertemu dengan 2 orang teman SM-3T dari UNY, yang juga ditempatkan di Kecamatan
Teriak. Ternyata kami ditempatkan pada suatu rumah kosong yang dahulu bekas
digunakan untuk gudang pupuk organik, rumah ini milik Pak Tambal, salah satu
guru di SMP Negeri 2 Teriak. Kehidupan kami selama 1 minggu pertama memang
belum dikatakan layak, karena rumah masih kotor, belum ada aliran listrik dan
air. Mandi pun harus menumpang tetangga, makan juga harus menumpang karena
disini tidak ada warung makan.
Tiba
saatnya ke sekolah, kami di tempatkan di SMA Negeri 2 Teriak, kemudian kami mulai
berkenalan dengan warga sekolah, guru, siswa dan staf TU. Masih canggung dan
binggung, karena masih belum bisa beradaptasi dengan bahasa Dayak yang mereka
gunakan. Namun, seiring berjalannya waktu kami bisa menyesuaikan dan dapat
bergaul, serta bekerjasama dengan mereka.
Pengalaman
mengajar yang tidak biasa aku dapatkan di kelas X ini, ada siswa yang suka
mencari perhatian, ada yang diam, ada yang sibuk sendiri, namun ada pula yang
serius memperhatikan. Jangan berpikir bahwa siswa disini mempunyai daya pikir
seperti siswa di Jawa pada umumnya. Jalan pikiran mereka masih lambat, sehingga
untuk menjelaskan harus penuh dengan kesabaran. Pernah suatu hari aku mengajar
matematika, untuk membahas satu soal saja harus diulang berkali-kali. Dan
ketika keesokan harinya diberikan soal yang sama, mereka sudah binggung untuk
mengerjakannya.
Jangan
pernah membayangkan juga bahwa disini tersedia buku, laboratorium dan fasilitas
lain yang menunjang untuk kegiatan sekolah. Bahkan gedung sekolahpun SMA Negei
2 Teriak masih menumpang di SMP Negeri 2 Teriak. Begitupula kursi dan meja
untuk belajar, siswa harus memindahkan kursi dari ruang kelas sebelah, dan
mengembalikan kembali seusai pulang sekolah.
Semangat
siswa-siswa SMA 2 Teriak sangat tinggi, meskipun sekolah masuk siang dan gedung
masih menumpang, mereka tetap semangat untuk berangkat ke sekolah. Semangat ini
harus diimbangi dengan kualitas guru. Terkadang aku merasa iba karena mereka
sudah jauh-jauh datang ke sekolah bahkan ada yang sampai 3 jam untuk berangkat
ke sekolah, namun sesampainya di sekolah tidak ada pelajaran, guru tidak datang.
Tiga
bulan pertama mengajar di SMA Negeri 2 Teriak aku masih belum menemukan siapa
siswa yang benar-benar pandai dan memiliki potensi untuk maju, barulah pada
bulan ke-empat aku menemukan seorang siswa yang aktif dan memiliki kemampuan
yang lebih dari yang lain, Merry namanya.
Dia
juga terpilih menjadi ketua OSIS di SMA Negeri 2 Teriak. Menang dalam lomba
saat kegiatan bulan bahasa dan sumpah pemuda. Suatu ketika aku bertanya padanya
apa yang menjadi penghalang untuknya belajar. Dia pun menjawab bahwa dia harus
melakukan pekerjaan rumah semuanya karena kedua orang tuanya sakit dan
kakak-kakaknya sudah berkeluarga.
Namun
hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk belajar disela-sela waktu yang
sempit. Ketika diluar jam pelajaran pun dia sering bertanya tentang materi yang
belum dia pahami. Untuk pelajaran Biologi, Merry juga mendapat nilai yang tertinggi.
Tibalah
saat pembagian rapor, semua orang tua diundang kesekolah untuk mengambil rapor
siswa. Namun ada juga beberapa siswa yang orang tuanya tidak bisa datang untuk
mengambil rapor, termasuk orang tua Merry. Terlihat jelas raut muka Merry yang
sedih karena orang tuanya tidak datang. Lalu dia bercanda denganku, dia
memintaku untuk mengambilkan rapornya. Aku pun merasa iba, namun apa dayaku yang
tak bisa mengambilkannya, karena yang mengambil rapor harus orang tua atau wali
siswa.
Wajah
Merry pun semakin sedih, dia sangat berharap untuk mendapat rapor. Ketika
diumumkan peringkatnya, Merry mendapat peringkat ke-2, tapi rapor dan hadiahnya
pun belum bisa diambil karena tidak ada orang tua atau wali yang mengambil. Dia
sedih.
Aku
menyuruh Merry untuk “meminjam” orang tua dari temannya agar mengaku sebagai
wali untuk mengambilkan rapornya. Setelah beberapa saat, dia telah berhasil
meminta tolong orang tua dari temannya untuk mengambilkan rapornya. Dia keluar
dengan wajah sumringah, tersenyum bahagia, lalu dia datang ke hadapanku, dan
dia minta untuk di peluk, “Bu Hanum, peluk aku.....”. Seketika itu juga air
mata ku menetes karena terharu dengan Merry. Merry pun demikian menangis
bahagia. Setelah beberapa saat kami berpelukan dia membuka kado, karena dia
peringkat tiga besar.
Setelah
suasana mereda, lalu aku bertanya kenapa orangtuanya tidak datang, diapun
menjawab, “Orangtua saya keduanya sakit bu, tidak mampu berjalan ke sekolah”.
Akupun terdiam, tersenyum kepadanya sambil mengusap pundaknya.
Gambar 1. Label
Sirup Cempedak
Mengapa
dipilih buah Cempedak? Karena kebeadaan buah cempedak sangat banyak di Desa
Sekaruh, jadi kami bermaksud untuk menonjolkan potensi di Desa Sekaruh. Kami
berpikir bagaimana cara membuat produk sedangkan kami tidak mempunyai
laboratorium beserta alat-alatnya. Sehingga diputuskan untuk membuat sirup yang
dapat diolah dengan menggunakan peralatan dapur biasa, meskipun minim bahan
kimia, tapi kami masih menggunakan baking
powder dan citrid acid (asam sitrat).
Baking powder mudah di dapat di
Bengkayang, sedangkan citrit acid
tidak ada di Bengkayang.
Lalu
bagaimana ini? Deadline pengumpulan makalah dan video pembuatan semakin dekat
dan kami belum mendapatkan salah satu bahannya. Alhamdulillah, ada mantan
mahasiswa PPL yang kuliah di Pontianak, Hemdi namanya. Segera aku hubungi dia
untuk membelikan citrid acid (asam
sitrat). Sehari setelahnya bahan itu sampai, Hemdi menitipkannya ke sopir bus
Pontianak-Bengkayang.
Permbuatan
video Sirup Cempedak dilakukan di rumahku dengan peralatan dapur sederhana,
jangan tanyakan kehigienisannya, karena tidak dilakukan di dalam laboratorium
yang steril. Dengan kamera digital biasa akhirnya video pembuatan sirup
Cempedak dapat selesai dengan baik. Tim Sirup Cempedak ini di ketuai oleh
Merry, dengan anggota dua siswa yang lain yaitu Duista dan Mely. Mereka sangat
antusias dalam pembuatan sirup ini. Berbekal informasi cara pembuatan sirup
dari internet kami bisa membuat Sirup Cempedak. Jangan dikira mudah untuk mendapat
sinyal internet disini. Harus pergi ke Pasar Bengkayang dahulu untuk dapat
akses internet dengan lancar.
Untuk
pembuatan makalahnya diserahkan kepada Riska. Jangankan untuk membuat makalah,
memegang laptop saja mereka tidak pernah. Malam sebelum mereka presentasi di
Universitas Tanjungpura Pontianak, mereka bermalam dirumahku. Aku dan Riska
menggembleng mereka agar mereka paham dan bisa presentasi dengan lancar di
depan dewan juri dan peserta yang lain.
Sekitar
pukul 5 pagi kami berangkat dari Teriak menuju UNTAN Pontianak. Rasa tidak
percaya bahwa mereka dapat lolos di tingkat provinsi dan melawan anak-anak SMA
dari kota. Aku, Riska, Merry, Durista, Mely, dan Kepala Sekolah berangkat
menggunakan mobil yang disupiri oleh Pak Ari (guru Penjaskes).
Dalam
perjalanan siswa-siswaku yang akan mengikuti lomba ini malah mabuk dan
muntah-muntah, aku khawatir kalau mereka tidak bisa presentasi. Tapi
sesampainya di UNTAN, meskipun mereka lemas, tapi mereka tetap bersemangat.
Sesampainya
di ruangan, setelah registrasi, belum sempat menghela nafas, panitia langsung
memanggil sekolah yang akan presentasi. Tapi mereka tidak beranjak dari tempat
duduk karena yang di panggil adalah SMA 2 Bengkayang, ku tengok kekanan dan ke
kiri tidak ada yang beranjak dari tempat duduk, rupanya panitia salah menyebut
nama sekolah kami, lalu di ulangi sekali lagi “SMA Negeri 2 Teriak” barulah
mereka maju ke depan untuk mempresentasikan produk Sirup Cempedak.
Semua
mata tertuju pada presentasi Merry dan teman-temannya. Aku dan Riska sebagai
guru pembimbingnya juga ikut cemas jika Merry tidak bisa berbicara di depan, Bu
Kutis selaku kepala sekolah juga menampakan wajah cemas. Sesekali Merry melihat
kearah tempat dudukku, dia masih takut untuk berbicara di depan umum, namun
lama kelamaan dia terbiasa dan lancar dalam menyampaikan presentasinya. Bahkan
ketika para juri memberikan pertanyaan, Merry mampu menjawab pertanyaan dengan
baik, dan terkadang sampai membuat penonton dan juri tertawa, karena Merry
menjawab pertanyaan dengan ringan dan santai. Ada satu pertanyaan yang sama
sekali belum bempat kuajarkan ke Merry, aku dan Riska bertatapan muka, takut
jikalau Merry dan teman-temannya tidak bisa menjawab. Tapi kenyataannya dia
mampu menjawabnya dengan baik.
Kami
tidak dapat mengikuti perlombaan hingga selesai sampai penerimaan hadiah,
dikarenakan biaya yang terbatas, sehingga kita harus pulang setelah presentasi,
karena jarak antara Bengkayang-Pontianak sangat jauh, jadi jika tidak bermalam
di Pontianak harus cepat pulang, karena nanti perjalanan akan akan sampai larut
malam.
Di
perjalanan pulang belum ada sms dari panitia. Aku cemas sekali, aku berharap
mereka mendapat juara, meskipun hanya juara tiga. Sampai pulang pun tidak ada
sms. Setelah handphone ku taruh di dinding tempat sinyal (di rumah susah sinyal
dan harus diletakkan di dinding kalau mau dapat sinyal) akhirnya ada sms dari
panitia yang menyatakan mereka mendapatkan juara 2. Lalu aku memberi kabar
mereka lewat sms, mereka sangat senang karena itu adalah kali pertamanya mereka
mendapatkan juara dalam perlombaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar