Sabtu, 25 Maret 2017

SM-3T ANGKATAN V KAB BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT
Umi Hanum, S.Pd.


 



Anak Kampung Jadi Juara
Tak pernah terbayangkan sebelumnya aku menjadi seorang guru di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Mengikuti progam SM-3T memang sudah ada dalam peta hidupku. Kala itu aku tulis akan mengikuti SM-3T bulan Maret tahun 2016. Namun aku bersyukur ketika aku telah dinyatakan lulus S1 pada tanggal 29 Maret 2015 dan diwisuda tanggal 15 Juni 2015. Melihat website SM-3T ternyata sudah mulai pembukaan pendaftaran SM-3T untuk angkatan V. Aku cermati apa saja persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi peserta SM-3T.
            Waktu itu aku belum mendapatkan ijazah S1, sehingga untuk mendaftar, aku menggunakan Surat Keterangan Kelulusan (SKL). Beberapa tahap seleksi telah dilewati dan akhirnya aku resmi dinyatakan menjadi guru SM-3T. Saat yang mendebarkan pun tiba, yaitu pengumuman tentang dimana kita semua akan di tempatkan. Papan tulis sesak penuh peserta yang penasaran dengan dimana dia ditempatkan. Aku pun tidak bisa melihat namaku ada dimana. Dan akhirnya ada salah satu teman yang memberitahuku bahwa aku ditempatkan di Bengkayang, Kalimantan Barat. Suatu nama daerah yang baru kali pertama aku dengar. Yang ada di pikiran hanyalah suatu tempat yang dipilihkan cocok buat aku dan aku yakin bisa bertahan hidup disana.
            Sesampainya di Bengkayang kami pun segera mengetahui di Kecamatan mana kita akan di tugaskan. Ketika di Oto kami bertemu dengan 2 orang teman SM-3T dari UNY, yang juga ditempatkan di Kecamatan Teriak. Ternyata kami ditempatkan pada suatu rumah kosong yang dahulu bekas digunakan untuk gudang pupuk organik, rumah ini milik Pak Tambal, salah satu guru di SMP Negeri 2 Teriak. Kehidupan kami selama 1 minggu pertama memang belum dikatakan layak, karena rumah masih kotor, belum ada aliran listrik dan air. Mandi pun harus menumpang tetangga, makan juga harus menumpang karena disini tidak ada warung makan.
Tiba saatnya ke sekolah, kami di tempatkan di SMA Negeri 2 Teriak, kemudian kami mulai berkenalan dengan warga sekolah, guru, siswa dan staf TU. Masih canggung dan binggung, karena masih belum bisa beradaptasi dengan bahasa Dayak yang mereka gunakan. Namun, seiring berjalannya waktu kami bisa menyesuaikan dan dapat bergaul, serta bekerjasama dengan mereka.
Pengalaman mengajar yang tidak biasa aku dapatkan di kelas X ini, ada siswa yang suka mencari perhatian, ada yang diam, ada yang sibuk sendiri, namun ada pula yang serius memperhatikan. Jangan berpikir bahwa siswa disini mempunyai daya pikir seperti siswa di Jawa pada umumnya. Jalan pikiran mereka masih lambat, sehingga untuk menjelaskan harus penuh dengan kesabaran. Pernah suatu hari aku mengajar matematika, untuk membahas satu soal saja harus diulang berkali-kali. Dan ketika keesokan harinya diberikan soal yang sama, mereka sudah binggung untuk mengerjakannya.
Jangan pernah membayangkan juga bahwa disini tersedia buku, laboratorium dan fasilitas lain yang menunjang untuk kegiatan sekolah. Bahkan gedung sekolahpun SMA Negei 2 Teriak masih menumpang di SMP Negeri 2 Teriak. Begitupula kursi dan meja untuk belajar, siswa harus memindahkan kursi dari ruang kelas sebelah, dan mengembalikan kembali seusai pulang sekolah.
Semangat siswa-siswa SMA 2 Teriak sangat tinggi, meskipun sekolah masuk siang dan gedung masih menumpang, mereka tetap semangat untuk berangkat ke sekolah. Semangat ini harus diimbangi dengan kualitas guru. Terkadang aku merasa iba karena mereka sudah jauh-jauh datang ke sekolah bahkan ada yang sampai 3 jam untuk berangkat ke sekolah, namun sesampainya di sekolah tidak ada pelajaran, guru tidak datang.
Tiga bulan pertama mengajar di SMA Negeri 2 Teriak aku masih belum menemukan siapa siswa yang benar-benar pandai dan memiliki potensi untuk maju, barulah pada bulan ke-empat aku menemukan seorang siswa yang aktif dan memiliki kemampuan yang lebih dari yang lain, Merry namanya.
Dia juga terpilih menjadi ketua OSIS di SMA Negeri 2 Teriak. Menang dalam lomba saat kegiatan bulan bahasa dan sumpah pemuda. Suatu ketika aku bertanya padanya apa yang menjadi penghalang untuknya belajar. Dia pun menjawab bahwa dia harus melakukan pekerjaan rumah semuanya karena kedua orang tuanya sakit dan kakak-kakaknya sudah berkeluarga.
Namun hal tersebut tidak mengurangi semangatnya untuk belajar disela-sela waktu yang sempit. Ketika diluar jam pelajaran pun dia sering bertanya tentang materi yang belum dia pahami. Untuk pelajaran Biologi, Merry juga mendapat nilai yang tertinggi.
Tibalah saat pembagian rapor, semua orang tua diundang kesekolah untuk mengambil rapor siswa. Namun ada juga beberapa siswa yang orang tuanya tidak bisa datang untuk mengambil rapor, termasuk orang tua Merry. Terlihat jelas raut muka Merry yang sedih karena orang tuanya tidak datang. Lalu dia bercanda denganku, dia memintaku untuk mengambilkan rapornya. Aku pun merasa iba, namun apa dayaku yang tak bisa mengambilkannya, karena yang mengambil rapor harus orang tua atau wali siswa.
Wajah Merry pun semakin sedih, dia sangat berharap untuk mendapat rapor. Ketika diumumkan peringkatnya, Merry mendapat peringkat ke-2, tapi rapor dan hadiahnya pun belum bisa diambil karena tidak ada orang tua atau wali yang mengambil. Dia sedih.
Aku menyuruh Merry untuk “meminjam” orang tua dari temannya agar mengaku sebagai wali untuk mengambilkan rapornya. Setelah beberapa saat, dia telah berhasil meminta tolong orang tua dari temannya untuk mengambilkan rapornya. Dia keluar dengan wajah sumringah, tersenyum bahagia, lalu dia datang ke hadapanku, dan dia minta untuk di peluk, “Bu Hanum, peluk aku.....”. Seketika itu juga air mata ku menetes karena terharu dengan Merry. Merry pun demikian menangis bahagia. Setelah beberapa saat kami berpelukan dia membuka kado, karena dia peringkat tiga besar.
Setelah suasana mereda, lalu aku bertanya kenapa orangtuanya tidak datang, diapun menjawab, “Orangtua saya keduanya sakit bu, tidak mampu berjalan ke sekolah”. Akupun terdiam, tersenyum kepadanya sambil mengusap pundaknya.
Di semester dua Merry semakin menampakan potensinya, hampir semua perlombaan dia ikuti seperti lomba O2SN, lomba debat Bahasa Indonesia, lomba cerdas cermat 4 pilar kebangsaan, dan lomba Green Chemistry Project. Untuk lomba Green Chemistry Project aku dan Riska (guru SM-3T UNNES) yang menjadi guru pembimbingnya. Awalnya kami binggung mau membuat produk yang minim bahan kimia dan bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari. Lalu akhirnya kita memutuskan untuk membuat Sirup Cempedak (Artocarpus champeden).





Gambar 1. Label Sirup Cempedak
Mengapa dipilih buah Cempedak? Karena kebeadaan buah cempedak sangat banyak di Desa Sekaruh, jadi kami bermaksud untuk menonjolkan potensi di Desa Sekaruh. Kami berpikir bagaimana cara membuat produk sedangkan kami tidak mempunyai laboratorium beserta alat-alatnya. Sehingga diputuskan untuk membuat sirup yang dapat diolah dengan menggunakan peralatan dapur biasa, meskipun minim bahan kimia, tapi kami masih menggunakan baking powder dan citrid acid (asam sitrat). Baking powder mudah di dapat di Bengkayang, sedangkan citrit acid tidak ada di Bengkayang.
Lalu bagaimana ini? Deadline pengumpulan makalah dan video pembuatan semakin dekat dan kami belum mendapatkan salah satu bahannya. Alhamdulillah, ada mantan mahasiswa PPL yang kuliah di Pontianak, Hemdi namanya. Segera aku hubungi dia untuk membelikan citrid acid (asam sitrat). Sehari setelahnya bahan itu sampai, Hemdi menitipkannya ke sopir bus Pontianak-Bengkayang.
Permbuatan video Sirup Cempedak dilakukan di rumahku dengan peralatan dapur sederhana, jangan tanyakan kehigienisannya, karena tidak dilakukan di dalam laboratorium yang steril. Dengan kamera digital biasa akhirnya video pembuatan sirup Cempedak dapat selesai dengan baik. Tim Sirup Cempedak ini di ketuai oleh Merry, dengan anggota dua siswa yang lain yaitu Duista dan Mely. Mereka sangat antusias dalam pembuatan sirup ini. Berbekal informasi cara pembuatan sirup dari internet kami bisa membuat Sirup Cempedak. Jangan dikira mudah untuk mendapat sinyal internet disini. Harus pergi ke Pasar Bengkayang dahulu untuk dapat akses internet dengan lancar.
Untuk pembuatan makalahnya diserahkan kepada Riska. Jangankan untuk membuat makalah, memegang laptop saja mereka tidak pernah. Malam sebelum mereka presentasi di Universitas Tanjungpura Pontianak, mereka bermalam dirumahku. Aku dan Riska menggembleng mereka agar mereka paham dan bisa presentasi dengan lancar di depan dewan juri dan peserta yang lain.
Sekitar pukul 5 pagi kami berangkat dari Teriak menuju UNTAN Pontianak. Rasa tidak percaya bahwa mereka dapat lolos di tingkat provinsi dan melawan anak-anak SMA dari kota. Aku, Riska, Merry, Durista, Mely, dan Kepala Sekolah berangkat menggunakan mobil yang disupiri oleh Pak Ari (guru Penjaskes).
Dalam perjalanan siswa-siswaku yang akan mengikuti lomba ini malah mabuk dan muntah-muntah, aku khawatir kalau mereka tidak bisa presentasi. Tapi sesampainya di UNTAN, meskipun mereka lemas, tapi mereka tetap bersemangat.
Sesampainya di ruangan, setelah registrasi, belum sempat menghela nafas, panitia langsung memanggil sekolah yang akan presentasi. Tapi mereka tidak beranjak dari tempat duduk karena yang di panggil adalah SMA 2 Bengkayang, ku tengok kekanan dan ke kiri tidak ada yang beranjak dari tempat duduk, rupanya panitia salah menyebut nama sekolah kami, lalu di ulangi sekali lagi “SMA Negeri 2 Teriak” barulah mereka maju ke depan untuk mempresentasikan produk Sirup Cempedak.
Semua mata tertuju pada presentasi Merry dan teman-temannya. Aku dan Riska sebagai guru pembimbingnya juga ikut cemas jika Merry tidak bisa berbicara di depan, Bu Kutis selaku kepala sekolah juga menampakan wajah cemas. Sesekali Merry melihat kearah tempat dudukku, dia masih takut untuk berbicara di depan umum, namun lama kelamaan dia terbiasa dan lancar dalam menyampaikan presentasinya. Bahkan ketika para juri memberikan pertanyaan, Merry mampu menjawab pertanyaan dengan baik, dan terkadang sampai membuat penonton dan juri tertawa, karena Merry menjawab pertanyaan dengan ringan dan santai. Ada satu pertanyaan yang sama sekali belum bempat kuajarkan ke Merry, aku dan Riska bertatapan muka, takut jikalau Merry dan teman-temannya tidak bisa menjawab. Tapi kenyataannya dia mampu menjawabnya dengan baik.
Kami tidak dapat mengikuti perlombaan hingga selesai sampai penerimaan hadiah, dikarenakan biaya yang terbatas, sehingga kita harus pulang setelah presentasi, karena jarak antara Bengkayang-Pontianak sangat jauh, jadi jika tidak bermalam di Pontianak harus cepat pulang, karena nanti perjalanan akan akan sampai larut malam.
Di perjalanan pulang belum ada sms dari panitia. Aku cemas sekali, aku berharap mereka mendapat juara, meskipun hanya juara tiga. Sampai pulang pun tidak ada sms. Setelah handphone ku taruh di dinding tempat sinyal (di rumah susah sinyal dan harus diletakkan di dinding kalau mau dapat sinyal) akhirnya ada sms dari panitia yang menyatakan mereka mendapatkan juara 2. Lalu aku memberi kabar mereka lewat sms, mereka sangat senang karena itu adalah kali pertamanya mereka mendapatkan juara dalam perlombaan.
Meskipun lawannya mereka dari kota dan sedangkan mereka dari kampung, mereka tetap percaya diri bahwa mereka akan membawa pulang piala, yang sekaligus menjadi piala pertama untuk sekolah mereka, SMA Negeri 2 Teriak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

RPP JARINGAN TUMBUHAN K 13 KELAS XI SMA